Rabu, 18 Juni 2014
Perjalanan
Seseorang pernah berkata padaku "Jika kau ingin berteriak melepaskan segalanya tapi tak bisa maka menulislah, mungkin itu bisa menenangkanmu. Jika kau merasa sedih, kesepian, dan tak tau harus mengutarakannya kepada siapa, ceritalah kepada Tuhan. Karena hanya kepadaNya lah semua jawaban atas segala permasalahanmu berasal"
Hari ini aku ingin menulis. Menggerakan jemariku, merangkai kata.
Mengatakan segala apa yang ingin aku katakan tanpa mengatakannya
Mejelaskan apa yang aku rasakan tanpa orang lain paham
Aneh? memang. Tapi, aku menemukan kenyamananku disini.
Berjalan walau pelan tetap terus berjalan
Sebuah kompas yang terlihat sangat tak berharga, namun itulah barang yang membantuku menentukan kemana kaki ini harus melangkah.
Kadang saat kompas menunjukan arah utara, kakiku memilih timur untuk melangkah. Setelah kaki ini melangkah jauh ke arah timur, dia menyesal. Kenapa dia begitu percaya diri dengan keputusannya.
Aku dan kakiku memang terus berjalan.
Tapi tak jarang kita berlari.
Tak perduli batu krikil tajam yang kita lewati kita terus saja berlari
Sampai akhirnya kakiku berdarah karenanya.
Tapi kakiku tak pernah menyerah. walau ia berdarah dia terus saja berjalan bahkan berlari padahal aku sudah mengeluh kelelahan.
Saat aku berjalan mencari sesuatu yang aku inginkan
Aku menemukan pintu tertutup tanpa kunci
Diatas pintu itu bertuliskan "kebahagiaan"
Pikiranku berbisik "ini yang kamu cari, bukalah pintu itu. maka kamu akan mendapatkan yang kamu cari selama ini"
Aku menjawab "tapi pintu ini bergembok, aku tak memiliki kuncinya. aku tak bisa membukanya"
Pikiranku berdebat "Tapi ini kan yang kamu cari selama ini? tunggu apa lagi? cepat buka!"
Kata kata yang diucapkan pikiranku sepertinya ada benarnya.
Aku mencoba membuka pintu itu dengan paksa, tetap tidak bisa
Seperti di film film pintu dapat dibuka dengan kawat kecil sebagi pengganti kunci. aku lakukan itu. pintu itu tetap tidak terbuka.
Aku congkel engsel pintu itu dengan kapak. tapi kapak itu justru patah.
Aku dobrak pintu intu dengan bandanku. sampai memar badanku dibuatnya tetap saja pintu itu tak bisa terbuka.
Aku lakukan segala cara agar pintu itu terbuka. tapi tetap pintu itu tak mau membuka diri.
Dan akhirnya aku menyerah. saat aku menyerah, terdengar suara entah dari mana. tapi akhirnya aku tau bahwa hatikulah yang berbicara.
"Apa yang sedang kaulakukan?"
"Membuka pintu kebahagiaan ini" jawabku.
"Bodohnya kau! mengapa kau lakukan hal yang sia sia seperti itu"
"Sia sia? Sia sia katamu? ini yang selama ini aku inginkan. kebahagiaan! tak ada yang salah dong jika aku ingin mendapatkan apa yang aku inginkan?" kataku mara pada hatiku.
"ya, tapi tak perlu bertindak bodoh seperti itu kan? coba kau lihat sekelilingmu!" perintah hatiku
"sudah, hanya pintu pintu terbuka yang aku lihat" kataku santai
"kau ini bodoh atau apa sih sebenarnya? lihat tulisan di atas pintu itu!"
"Kebahagiaan" jawabku tak mengerti.
"Oh Tuhan.. selama ini kau terlalu fokus dengan pintu kebahagiaan yang tertutup itu. sampai sampai kau tidak melihat sekelilingmu. banyak pintu yang sama yang terbuka bahkan terbuka lebar, dan kau tidak menyadari hal itu. Bodoh betul kau ini!" kata hatiku membentaku.
"Ya aku memang bodoh. tapi kenapa kau baru memberitahuku sekarang"
"karena aku ingin mengujimu. seberapa besar kau bergantung pada pikiranmu. kau ini punya pikiran dan hati. tapi kenapa kau selalu menggunakan si pikiran tanpa memperdulikan ku? hatimu sendiri? yang selama ini selalu memberikan kebenaran kepadamu! pikiran tanpa hati akan menjadi jahat. hati tanpa pikiran akan menjadi bodoh. perlakukan kami secara adil! aku, hati, dan pikiran selalu bersama. jangan pisahkan kami!. perlakukan kami secara adil! sesuai dengan porsinya! sekali lagi jangan biarkan aku mati dan akhirnya membusuk. jika sudah demikian saat kau berada di tempat gelap dan ingin mencari cahaya, aku tak bisa membantumu. karena pada saat aku mati dan membusuk aku telah buta. dan kau juga tak bisa meminta bantuan kepada pikiran. karena pikiran tak bisa bedakan mana gelap mana terang"
"Baiklah. aku mengaku salah. aku minta maaf :("
sekian.
readmore »»
Hari ini aku ingin menulis. Menggerakan jemariku, merangkai kata.
Mengatakan segala apa yang ingin aku katakan tanpa mengatakannya
Mejelaskan apa yang aku rasakan tanpa orang lain paham
Aneh? memang. Tapi, aku menemukan kenyamananku disini.
Berjalan walau pelan tetap terus berjalan
Sebuah kompas yang terlihat sangat tak berharga, namun itulah barang yang membantuku menentukan kemana kaki ini harus melangkah.
Kadang saat kompas menunjukan arah utara, kakiku memilih timur untuk melangkah. Setelah kaki ini melangkah jauh ke arah timur, dia menyesal. Kenapa dia begitu percaya diri dengan keputusannya.
Aku dan kakiku memang terus berjalan.
Tapi tak jarang kita berlari.
Tak perduli batu krikil tajam yang kita lewati kita terus saja berlari
Sampai akhirnya kakiku berdarah karenanya.
Tapi kakiku tak pernah menyerah. walau ia berdarah dia terus saja berjalan bahkan berlari padahal aku sudah mengeluh kelelahan.
Saat aku berjalan mencari sesuatu yang aku inginkan
Aku menemukan pintu tertutup tanpa kunci
Diatas pintu itu bertuliskan "kebahagiaan"
Pikiranku berbisik "ini yang kamu cari, bukalah pintu itu. maka kamu akan mendapatkan yang kamu cari selama ini"
Aku menjawab "tapi pintu ini bergembok, aku tak memiliki kuncinya. aku tak bisa membukanya"
Pikiranku berdebat "Tapi ini kan yang kamu cari selama ini? tunggu apa lagi? cepat buka!"
Kata kata yang diucapkan pikiranku sepertinya ada benarnya.
Aku mencoba membuka pintu itu dengan paksa, tetap tidak bisa
Seperti di film film pintu dapat dibuka dengan kawat kecil sebagi pengganti kunci. aku lakukan itu. pintu itu tetap tidak terbuka.
Aku congkel engsel pintu itu dengan kapak. tapi kapak itu justru patah.
Aku dobrak pintu intu dengan bandanku. sampai memar badanku dibuatnya tetap saja pintu itu tak bisa terbuka.
Aku lakukan segala cara agar pintu itu terbuka. tapi tetap pintu itu tak mau membuka diri.
Dan akhirnya aku menyerah. saat aku menyerah, terdengar suara entah dari mana. tapi akhirnya aku tau bahwa hatikulah yang berbicara.
"Apa yang sedang kaulakukan?"
"Membuka pintu kebahagiaan ini" jawabku.
"Bodohnya kau! mengapa kau lakukan hal yang sia sia seperti itu"
"Sia sia? Sia sia katamu? ini yang selama ini aku inginkan. kebahagiaan! tak ada yang salah dong jika aku ingin mendapatkan apa yang aku inginkan?" kataku mara pada hatiku.
"ya, tapi tak perlu bertindak bodoh seperti itu kan? coba kau lihat sekelilingmu!" perintah hatiku
"sudah, hanya pintu pintu terbuka yang aku lihat" kataku santai
"kau ini bodoh atau apa sih sebenarnya? lihat tulisan di atas pintu itu!"
"Kebahagiaan" jawabku tak mengerti.
"Oh Tuhan.. selama ini kau terlalu fokus dengan pintu kebahagiaan yang tertutup itu. sampai sampai kau tidak melihat sekelilingmu. banyak pintu yang sama yang terbuka bahkan terbuka lebar, dan kau tidak menyadari hal itu. Bodoh betul kau ini!" kata hatiku membentaku.
"Ya aku memang bodoh. tapi kenapa kau baru memberitahuku sekarang"
"karena aku ingin mengujimu. seberapa besar kau bergantung pada pikiranmu. kau ini punya pikiran dan hati. tapi kenapa kau selalu menggunakan si pikiran tanpa memperdulikan ku? hatimu sendiri? yang selama ini selalu memberikan kebenaran kepadamu! pikiran tanpa hati akan menjadi jahat. hati tanpa pikiran akan menjadi bodoh. perlakukan kami secara adil! aku, hati, dan pikiran selalu bersama. jangan pisahkan kami!. perlakukan kami secara adil! sesuai dengan porsinya! sekali lagi jangan biarkan aku mati dan akhirnya membusuk. jika sudah demikian saat kau berada di tempat gelap dan ingin mencari cahaya, aku tak bisa membantumu. karena pada saat aku mati dan membusuk aku telah buta. dan kau juga tak bisa meminta bantuan kepada pikiran. karena pikiran tak bisa bedakan mana gelap mana terang"
"Baiklah. aku mengaku salah. aku minta maaf :("
sekian.
Aku, Restoran 24jam, dan Pelanggan Setia
Hallloooo. Aku kembali :-)
Aku punya sebuah cerita tentang kehidupan yang aku ilustrasikan sebagai restoran 24 jam dan pelanggan setianya.
Anggap saja aku adalah pemilik restoran itu dan aku memiliki banayak (lebih dari 2) pelanggan yang sering datang ke restoran ku. Dan aku sebut mereka pelanggan setiaku.
Tapi aku memiliki perbedaan dengan restoran yang lain. Aku tak butuh bayaran dari mereka. Aku membutuhkan senyuman dari mereka :-).
Mereka datang dan pergi sesuka hati mereka dan aku tak melarangnya.
Ketika mereka sedang lapar dan membutuhkan makanan, aku siap membuatkan mereka makanan.
Walau saat itu aku sedang lelah.
Saat pagi menyerang. Aku masih setengah bangun, dan mereka meminta makanan kepadaku, aku memasakkan mereka.
Saat aku sedang sibuk dengan urusanku yang lain, dan mereka menelfonku untuk meminta aku memasakan untuk mereka. Aku akan bilang ya.
Saat aku sedih dan punya banyak masalah, mereka lapar dan memintaku membuatkan makanan kepadaku, aku segera mengiyakan karena aku adalah restoran 24jam.
Tapi pada suaru hari mereka terlihat begitu kenyang, begitu bosan dengan menu masakan yang aku buat.
Atay pelayananku yang begitu buruk atau ada yang salah dengan diriku aku tak tau.
Akhirnya mereka pergi dari tempatku, karena aku mulai membosankan. Itu menurutku.
Mereka pergi ke restoran lain.
Mencari masakan yang enak.
Dan tak kembali lagi.
Akhirnya aku membuat menu masakan baru lagi.
Aku tawarkan kepada mereka, yang dulu sering datang ketempatku
Tapi sepertinya mereka tak mau dengan masakanku.
Lebih memilih reatoran baru itu.
Aku katakan pada diriku sendiri "tak apa tak apa. Semua akan baik baik saja"
Tapi kenyataannya tidak. Aku merasa sendiri, kesepian. Akhirnya aku bangkrut
Tapi akhirnya ada juga pelanggan baru.
Yang selalu datang setiap saat
Tapi tak lama setelah itu kejadian yang sama terulang lagi.
Aku hanya bisa berkata pada diriku sendiri "tak apa tak apa. Semua akan baik baik saja"
Sampai sekaranf aku masih mencari "pelangganku"
Sebenarnya aku memiliki partener yang menemaniku dari aku memulai usaha ini. Mereka parter yang jaranf datang ke restoranku. Tapi mereka ada saat aku butuh:-).
Terimakasih partner:-).
Aku masih tetap menunggu "pelangganku" :-)
Selesaii sudah cerita ku :)
Mau jadi "pelangganku" ?:-)








.jpg)
.jpg)



