LRP's World

Pages

  • Home

LRP

Unknown
Lihat profil lengkapku

Followers

Label

  • Cerita
  • Curhat
  • NM
  • SuperJunior Quote's

Blog Archive

  • ►  2015 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2014 (22)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (2)
    • ▼  Januari (10)
      • No Mention #4
      • Air? Cinta?
      • Marah atau Tersenyum?
      • Run and Hide
      • YMMC
      • 18!
      • "Dia" dan Sebuah Novel
      • Persimpangan
      • Aku Lelah.....
      • No Mention #3
  • ►  2013 (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (3)
Sabtu, 11 Januari 2014
In: Cerita

"Dia" dan Sebuah Novel

Aku punya sebuah cerita, cerita tentang seorang tokoh yang bernama "Dia"
"Dia" bisa seorang laki laki maupun perempuan
"Dia" bisa memiliki rambut panjang ataupun pendek.
"Dia" bisa tinggi juga bisa pendek.
"Dia" bisa berkulit agak gelap bisa juga berkulit putih.
"Dia" bisa bermata sipit juga bisa bermata belo.
"Dia" bisa siapa saja. Bahkan mungkin bisa juga "Dia" ini adalah kamu, ya! kamu yang sedang membaca ini.
Tapi yang pasti, dalam cerita ini "Dia" adalah seorang manusia yang berperasaan :)


Pada suatu hari, "Dia" pergi ke sebuah toko buku yang cukup ternama di kotanya.
"Dia" ingin membeli sebuah novel, untuk menemaninya bersantai.
Untuk menemaninya menikmati indahnya hidup
Untuk menemani dalam kekosongan waktu yang "Dia" rasakan.
Saat "Dia" masuk ke dalam toko buku tersebut, pelayan toko itu menyambut "Dia" dengan ramah.
"Selamat datang" kata si penlayan ramah sembari tersenyum.
"Dia" hanya menganggukkan kepalanya dan bergegas menuju ke sebuah rak dengan tulisan "Novel" di atasnya
Dari kanan sampai kiri rak, semuanya telah "Dia" lihat, tapi belum ada satupun novel yang "Dia" pilih.
Tapi, setelah lama memilih akhirnya "Dia" tertarik pada sebuah novel dengan judul yang sangat menarik bagi "Dia"
Lalu, "Dia" mengambil novel tersebut, membolak balik novel tersebut, mencari hal yang lebih dari novel tersebut.
Tak berapa lama setelah itu, "Dia" meletakkan kembali novel itu ketempatnya semula tanpa membaca sinopsis yang ada di belakang novel tersebut.
Ada rasa kecewa yang tergambar jelas di wajah "Dia".
Tanpa alasan yang jelas, "Dia" mengembalikan buku itu ke raknya semua, padahal awalnya "Dia" tertarik dengan novel tersebut.
Ternyata, hanya karena sampul novel itu yang tidak menarik, "Dia" langsung mengembalikan novel tersebut. Padahal "Dia" belum membaca isinya, tapi "Dia" sudah berani memutuskan.


Karena, tidak mau membuang waktu dengan sia-sia, "Dia" kembali mencari novel kembali.
Di ujung rak novel, "Dia" menemukan sebuah novel dengan sampul yang sangat menarik.
Sampul itu seperti menggambarkan keindahan, baik di dalam maupun diluar.
Tanpa berpikir panjang lagi, "Dia" kemudian membawa novel itu kekasir untuk dibayar, kemudian "Dia" bawa pulang untuk "Dia" baca.
Sesampainya di rumah "Dia" mulai membaca novel yang tadi telah "Dia" beli.
Lembar demi lembar novel tersebut mulai "Dia"baca.


Sampai di tengah halaman novel, "Dia" memutuskan untuk berhenti membaca novel tersebut.
Menurutnya novel tersebut memiliki isi yang tak sebagus sampulnya.
"Dia" kemudian meletakkan novel teresut di sebuah meja kecil, "Dia" tidak membuangnya hanya meletakknya tapi tidak membacanya.
"Dia" membiarkan novel dengan sampul bagus itu berdebu, sepertinya "Dia" mulai tidak perduli dengan novel itu, berbeda dengan saat dia baru membeli novel tersebut.


Itulah cerita yang aku punya, Jelek? maaf :(
Tapi aku cukup menyesal dengan cerita ini. Mengapa?
Coba saja, "Dia" tadi memilih novel yang pertama, yang sampulnya jelek padahal isi cerita di dalamnya sangat bagus, sangat cocok untuk menemani "Dia" dalam waktu luangya.
Coba saja, "Dia" tadi tidak memilih novel yang sampulnya terluhat bagus, padahal isinya tidak sebagus sampulnya.. Coba saja.. waktu bisa terulang..
Jika tadi "Dia" memilih novel yang benar benar bagus isinya, bukan hanya sampulnya saja yang bagus. Pasti tidak akan ada dua novel yang 'Terbuang'.
Karena yang terpenting dari sebuah novel itu isi ceritanya bukan sampulnya. Namun, sampul juga terkadang penting, tapi tak sepenting isinya.
Isi lebih penting kalau menurutku :)

-LRP-

Diposting oleh Unknown di 07.39
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

1 komentar:

ajeng puspitasari mengatakan...

tidak jelek. sungguh. aku suka.
kadang, bukan masalah sampul atau isinya, tapi bagaimana cara kita menghargai dan menghormati sesuatu.
terimakasih karena sudah menulis ini.
terimakasih.

12 Januari 2014 pukul 22.33

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Copyright © 2012 LRP's World |