Sabtu, 28 Juni 2014
Perbedaan di antara Persamaan
Ingat kah akan perkataanku yang sebelumnya?
"Jika kau memiliki sesuatu yang mengganjal dalam hidupmu, menulislah. Menulis adalah salah satu cara mengungkap hatimu tanpa membuat mulutmu bekerja" kurang lebih seperti itulah yang ku katakan.
Aku mulai...........
Awan dan langit diciptakan untuk bersama. Bukan begitu?
Saat langit merasa tak enak, merasa tidak bersemangat, merasa sedih, bahkan hampir putus asa. Awan merasakannya.
Awan merasakan apa yang dirasakkan si langit.
Jika saat itu langit dalam keadaan kelabu, awan merasakannya. Ia akan menjadi kelabu. Tapi entah mengapa awan lebih sensitif. Lebih menunjukan perasaanya. Perasaan yang hanya dimiliki awan. Perasaan yang terlihat baik tapi kadang didalamnya terdapat banyak keburukan, menangis (hujan).
Sedangkan langit, apakah bisa seperti awan? tidak.
Langit tak seperti awan yang terlalu lemah menurutnya. Langit lebih suka marah (kelabu) tanpa harus mengeluarkan tangisannya. kadang hal seperti itu dianggap buruk, padahal menyimpan kebaikan didalamnya.
Tapi apa yang terjadi jika sesuatu yang ditakdirkan bersama harus mengambil keputusan berbeda?
Apa yang terjadi jika sesuatu yang selalu sepaham, berbeda langkah?
Apa yang terjadi jika sesuatu yang seiya dan setidak sekarang harus bersebrngan?
Apakah awan dan langit seperti itu juga? Apa mereka pernah bersebrangan? jawabannya pernah dan iya.
Semua yang terlihat baik tidak selalu baik, semua yang terlihat senyum tak selalu senyum, semua yang terlihat jahat tak selalu jahat.
karena dunia ini penuh dengan hal yang bersebrangan. Baik dimata maupun dipikiran.
Ini adalah hal yang ingin aku bicarakan dari tadi.
Saat kita selalu bersama, selalu sejalan, selalu bergandengan tangan, selalu sedih bersama, tidak hanya senyim yang kita lalui bersama, tangisanpun kita lalui bersama.
Walau mereka bilang "kalian baru mengenal satu sama lain, tapi sudah begitu dekat. aneh"
jawaban yang ku berikan "tidak semua yang lama itu kita kenal dan tidak semua yang baru itu asing"
Perasaan yang begitu nyaman saat bersama, membuatku mager, itu bahasa gaulnya.
Tapi roda itu berputar. betulkan?
Akhirnya kita mencapai dititik dimna kita harus bersebrangan.
Aku mengambil kanan dia mengambil kiri.
Jauh sudah jarak kita.
Sudah terpisah, sudah tak rapat.
Sudah memiliki pndapat yang berbeda, dan pertengkaran yang kami dapat.
Kini kamisling diam, tak bertegur sapa, cuek tak peduli.
Tapi aku tak menyerah.
Kanan dan kiri bisa dipersatukan.
benar begitu?
Lalu apa guanya Tengah, jika bukan untuk mempersatukan Kanan dan Kiri?
Sekian.
readmore »»
"Jika kau memiliki sesuatu yang mengganjal dalam hidupmu, menulislah. Menulis adalah salah satu cara mengungkap hatimu tanpa membuat mulutmu bekerja" kurang lebih seperti itulah yang ku katakan.
Aku mulai...........
Awan dan langit diciptakan untuk bersama. Bukan begitu?
Saat langit merasa tak enak, merasa tidak bersemangat, merasa sedih, bahkan hampir putus asa. Awan merasakannya.
Awan merasakan apa yang dirasakkan si langit.
Jika saat itu langit dalam keadaan kelabu, awan merasakannya. Ia akan menjadi kelabu. Tapi entah mengapa awan lebih sensitif. Lebih menunjukan perasaanya. Perasaan yang hanya dimiliki awan. Perasaan yang terlihat baik tapi kadang didalamnya terdapat banyak keburukan, menangis (hujan).
Sedangkan langit, apakah bisa seperti awan? tidak.
Langit tak seperti awan yang terlalu lemah menurutnya. Langit lebih suka marah (kelabu) tanpa harus mengeluarkan tangisannya. kadang hal seperti itu dianggap buruk, padahal menyimpan kebaikan didalamnya.
Tapi apa yang terjadi jika sesuatu yang ditakdirkan bersama harus mengambil keputusan berbeda?
Apa yang terjadi jika sesuatu yang selalu sepaham, berbeda langkah?
Apa yang terjadi jika sesuatu yang seiya dan setidak sekarang harus bersebrngan?
Apakah awan dan langit seperti itu juga? Apa mereka pernah bersebrangan? jawabannya pernah dan iya.
Semua yang terlihat baik tidak selalu baik, semua yang terlihat senyum tak selalu senyum, semua yang terlihat jahat tak selalu jahat.
karena dunia ini penuh dengan hal yang bersebrangan. Baik dimata maupun dipikiran.
Ini adalah hal yang ingin aku bicarakan dari tadi.
Saat kita selalu bersama, selalu sejalan, selalu bergandengan tangan, selalu sedih bersama, tidak hanya senyim yang kita lalui bersama, tangisanpun kita lalui bersama.
Walau mereka bilang "kalian baru mengenal satu sama lain, tapi sudah begitu dekat. aneh"
jawaban yang ku berikan "tidak semua yang lama itu kita kenal dan tidak semua yang baru itu asing"
Perasaan yang begitu nyaman saat bersama, membuatku mager, itu bahasa gaulnya.
Tapi roda itu berputar. betulkan?
Akhirnya kita mencapai dititik dimna kita harus bersebrangan.
Aku mengambil kanan dia mengambil kiri.
Jauh sudah jarak kita.
Sudah terpisah, sudah tak rapat.
Sudah memiliki pndapat yang berbeda, dan pertengkaran yang kami dapat.
Kini kamisling diam, tak bertegur sapa, cuek tak peduli.
Tapi aku tak menyerah.
Kanan dan kiri bisa dipersatukan.
benar begitu?
Lalu apa guanya Tengah, jika bukan untuk mempersatukan Kanan dan Kiri?
Sekian.
Rabu, 18 Juni 2014
Perjalanan
Seseorang pernah berkata padaku "Jika kau ingin berteriak melepaskan segalanya tapi tak bisa maka menulislah, mungkin itu bisa menenangkanmu. Jika kau merasa sedih, kesepian, dan tak tau harus mengutarakannya kepada siapa, ceritalah kepada Tuhan. Karena hanya kepadaNya lah semua jawaban atas segala permasalahanmu berasal"
Hari ini aku ingin menulis. Menggerakan jemariku, merangkai kata.
Mengatakan segala apa yang ingin aku katakan tanpa mengatakannya
Mejelaskan apa yang aku rasakan tanpa orang lain paham
Aneh? memang. Tapi, aku menemukan kenyamananku disini.
Berjalan walau pelan tetap terus berjalan
Sebuah kompas yang terlihat sangat tak berharga, namun itulah barang yang membantuku menentukan kemana kaki ini harus melangkah.
Kadang saat kompas menunjukan arah utara, kakiku memilih timur untuk melangkah. Setelah kaki ini melangkah jauh ke arah timur, dia menyesal. Kenapa dia begitu percaya diri dengan keputusannya.
Aku dan kakiku memang terus berjalan.
Tapi tak jarang kita berlari.
Tak perduli batu krikil tajam yang kita lewati kita terus saja berlari
Sampai akhirnya kakiku berdarah karenanya.
Tapi kakiku tak pernah menyerah. walau ia berdarah dia terus saja berjalan bahkan berlari padahal aku sudah mengeluh kelelahan.
Saat aku berjalan mencari sesuatu yang aku inginkan
Aku menemukan pintu tertutup tanpa kunci
Diatas pintu itu bertuliskan "kebahagiaan"
Pikiranku berbisik "ini yang kamu cari, bukalah pintu itu. maka kamu akan mendapatkan yang kamu cari selama ini"
Aku menjawab "tapi pintu ini bergembok, aku tak memiliki kuncinya. aku tak bisa membukanya"
Pikiranku berdebat "Tapi ini kan yang kamu cari selama ini? tunggu apa lagi? cepat buka!"
Kata kata yang diucapkan pikiranku sepertinya ada benarnya.
Aku mencoba membuka pintu itu dengan paksa, tetap tidak bisa
Seperti di film film pintu dapat dibuka dengan kawat kecil sebagi pengganti kunci. aku lakukan itu. pintu itu tetap tidak terbuka.
Aku congkel engsel pintu itu dengan kapak. tapi kapak itu justru patah.
Aku dobrak pintu intu dengan bandanku. sampai memar badanku dibuatnya tetap saja pintu itu tak bisa terbuka.
Aku lakukan segala cara agar pintu itu terbuka. tapi tetap pintu itu tak mau membuka diri.
Dan akhirnya aku menyerah. saat aku menyerah, terdengar suara entah dari mana. tapi akhirnya aku tau bahwa hatikulah yang berbicara.
"Apa yang sedang kaulakukan?"
"Membuka pintu kebahagiaan ini" jawabku.
"Bodohnya kau! mengapa kau lakukan hal yang sia sia seperti itu"
"Sia sia? Sia sia katamu? ini yang selama ini aku inginkan. kebahagiaan! tak ada yang salah dong jika aku ingin mendapatkan apa yang aku inginkan?" kataku mara pada hatiku.
"ya, tapi tak perlu bertindak bodoh seperti itu kan? coba kau lihat sekelilingmu!" perintah hatiku
"sudah, hanya pintu pintu terbuka yang aku lihat" kataku santai
"kau ini bodoh atau apa sih sebenarnya? lihat tulisan di atas pintu itu!"
"Kebahagiaan" jawabku tak mengerti.
"Oh Tuhan.. selama ini kau terlalu fokus dengan pintu kebahagiaan yang tertutup itu. sampai sampai kau tidak melihat sekelilingmu. banyak pintu yang sama yang terbuka bahkan terbuka lebar, dan kau tidak menyadari hal itu. Bodoh betul kau ini!" kata hatiku membentaku.
"Ya aku memang bodoh. tapi kenapa kau baru memberitahuku sekarang"
"karena aku ingin mengujimu. seberapa besar kau bergantung pada pikiranmu. kau ini punya pikiran dan hati. tapi kenapa kau selalu menggunakan si pikiran tanpa memperdulikan ku? hatimu sendiri? yang selama ini selalu memberikan kebenaran kepadamu! pikiran tanpa hati akan menjadi jahat. hati tanpa pikiran akan menjadi bodoh. perlakukan kami secara adil! aku, hati, dan pikiran selalu bersama. jangan pisahkan kami!. perlakukan kami secara adil! sesuai dengan porsinya! sekali lagi jangan biarkan aku mati dan akhirnya membusuk. jika sudah demikian saat kau berada di tempat gelap dan ingin mencari cahaya, aku tak bisa membantumu. karena pada saat aku mati dan membusuk aku telah buta. dan kau juga tak bisa meminta bantuan kepada pikiran. karena pikiran tak bisa bedakan mana gelap mana terang"
"Baiklah. aku mengaku salah. aku minta maaf :("
sekian.
readmore »»
Hari ini aku ingin menulis. Menggerakan jemariku, merangkai kata.
Mengatakan segala apa yang ingin aku katakan tanpa mengatakannya
Mejelaskan apa yang aku rasakan tanpa orang lain paham
Aneh? memang. Tapi, aku menemukan kenyamananku disini.
Berjalan walau pelan tetap terus berjalan
Sebuah kompas yang terlihat sangat tak berharga, namun itulah barang yang membantuku menentukan kemana kaki ini harus melangkah.
Kadang saat kompas menunjukan arah utara, kakiku memilih timur untuk melangkah. Setelah kaki ini melangkah jauh ke arah timur, dia menyesal. Kenapa dia begitu percaya diri dengan keputusannya.
Aku dan kakiku memang terus berjalan.
Tapi tak jarang kita berlari.
Tak perduli batu krikil tajam yang kita lewati kita terus saja berlari
Sampai akhirnya kakiku berdarah karenanya.
Tapi kakiku tak pernah menyerah. walau ia berdarah dia terus saja berjalan bahkan berlari padahal aku sudah mengeluh kelelahan.
Saat aku berjalan mencari sesuatu yang aku inginkan
Aku menemukan pintu tertutup tanpa kunci
Diatas pintu itu bertuliskan "kebahagiaan"
Pikiranku berbisik "ini yang kamu cari, bukalah pintu itu. maka kamu akan mendapatkan yang kamu cari selama ini"
Aku menjawab "tapi pintu ini bergembok, aku tak memiliki kuncinya. aku tak bisa membukanya"
Pikiranku berdebat "Tapi ini kan yang kamu cari selama ini? tunggu apa lagi? cepat buka!"
Kata kata yang diucapkan pikiranku sepertinya ada benarnya.
Aku mencoba membuka pintu itu dengan paksa, tetap tidak bisa
Seperti di film film pintu dapat dibuka dengan kawat kecil sebagi pengganti kunci. aku lakukan itu. pintu itu tetap tidak terbuka.
Aku congkel engsel pintu itu dengan kapak. tapi kapak itu justru patah.
Aku dobrak pintu intu dengan bandanku. sampai memar badanku dibuatnya tetap saja pintu itu tak bisa terbuka.
Aku lakukan segala cara agar pintu itu terbuka. tapi tetap pintu itu tak mau membuka diri.
Dan akhirnya aku menyerah. saat aku menyerah, terdengar suara entah dari mana. tapi akhirnya aku tau bahwa hatikulah yang berbicara.
"Apa yang sedang kaulakukan?"
"Membuka pintu kebahagiaan ini" jawabku.
"Bodohnya kau! mengapa kau lakukan hal yang sia sia seperti itu"
"Sia sia? Sia sia katamu? ini yang selama ini aku inginkan. kebahagiaan! tak ada yang salah dong jika aku ingin mendapatkan apa yang aku inginkan?" kataku mara pada hatiku.
"ya, tapi tak perlu bertindak bodoh seperti itu kan? coba kau lihat sekelilingmu!" perintah hatiku
"sudah, hanya pintu pintu terbuka yang aku lihat" kataku santai
"kau ini bodoh atau apa sih sebenarnya? lihat tulisan di atas pintu itu!"
"Kebahagiaan" jawabku tak mengerti.
"Oh Tuhan.. selama ini kau terlalu fokus dengan pintu kebahagiaan yang tertutup itu. sampai sampai kau tidak melihat sekelilingmu. banyak pintu yang sama yang terbuka bahkan terbuka lebar, dan kau tidak menyadari hal itu. Bodoh betul kau ini!" kata hatiku membentaku.
"Ya aku memang bodoh. tapi kenapa kau baru memberitahuku sekarang"
"karena aku ingin mengujimu. seberapa besar kau bergantung pada pikiranmu. kau ini punya pikiran dan hati. tapi kenapa kau selalu menggunakan si pikiran tanpa memperdulikan ku? hatimu sendiri? yang selama ini selalu memberikan kebenaran kepadamu! pikiran tanpa hati akan menjadi jahat. hati tanpa pikiran akan menjadi bodoh. perlakukan kami secara adil! aku, hati, dan pikiran selalu bersama. jangan pisahkan kami!. perlakukan kami secara adil! sesuai dengan porsinya! sekali lagi jangan biarkan aku mati dan akhirnya membusuk. jika sudah demikian saat kau berada di tempat gelap dan ingin mencari cahaya, aku tak bisa membantumu. karena pada saat aku mati dan membusuk aku telah buta. dan kau juga tak bisa meminta bantuan kepada pikiran. karena pikiran tak bisa bedakan mana gelap mana terang"
"Baiklah. aku mengaku salah. aku minta maaf :("
sekian.